Soal Ips Kelas 7 Smp Kepingan 1 – Lingkungan Kehidupan Manusia

Soal IPS Kelas 7 Sekolah Menengah Pertama Bab 1 – Lingkungan Kehidupan Manusia : Sahabat Defifa yang berbahagia, semoga kita dalam menjalani hidup ini selalu ada dalam kesehatan. Dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) untuk kelas 7 Sekolah Menengah Pertama pada Bab 1 wacana Lingkungan Kehidupan Manusia yang kemudian dibagi lagi menjadi beberapa sub penggalan yakni Bentuk Muka Bumi dan Kehidupan Masa Praaksara di Indonesia.
 semoga kita dalam menjalani hidup ini selalu ada dalam kesehatan Soal IPS Kelas 7 Sekolah Menengah Pertama Bab 1 – Lingkungan Kehidupan Manusia

Adapun teladan Soal IPS Kelas 7 Sekolah Menengah Pertama Bab 1 wacana Lingkungan Kehidupan Manusia yakni sebagai berikut:

Wacana

Sangiran, Lahan Penelitian

Seandainya von Koenigswald pada tahun 1934 tidak menginjakkan kakinya di bumi Sangiran, situs insan purba ini mungkin tidak akan setenar sekarang. Mengapa? Sejak kunjungan itu, nama Sangiran muncul dalam ranah ilmu pengetahuan sebagai situs inovasi alat batu.
Jauh sebelum von Koenigswald, pada tahun 1893 Eugene Dubois, penemu fosil insan purba Trinil sudah mendatangi Sangiran. Akan tetapi, kering dan tandusnya wilayah, kurang berkesan baginya.
Dokter muda yang minta ditugaskan ke Hindia Belanda lantaran ingin menelusuri mata rantai yang putus dari evolusi insan (missing link), awalnya menentukan Payakumbuh sebagai lokasi penelitian, lantaran hanya menemukan fosil binatang kemudian mengalihkannya ke Tulungagung dan Trinil. Di Desa Trinil yang terletak di tepi Bengawan Solo, Dubois menemukan fosil tulang paha dan tengkorak insan purba yang disebut  Pithecanthropus erectus, si insan berjalan tegak.
Penemuan ini segera meluas berkat publikasinya pada Bulettin Raffles Museum, Singapura, dengan sebutan the Sangiran flake industry. Penemuan fosil rusa Axis lydekkeri  yang dipandang sebagai fauna khas Trinil meyakinkannya, bahwa alat-alat serpih dari
bahan tufa kersikan, jasper, dan kalsedon itu merupakan buatan insan purba Homo erectus, pendapat yang kemudian ditentang para peneliti lain.
Penemuan Koenigswald di Sangiran menjadi awal rangkaian temuan tidak berkesudahan. Dua tahun kemudian penduduk menemukan rahang bawah fosil insan purba di lapisan Pucangan atas di Sangiran, menyusul fosil-fosil lain pada tahun-tahun berikutnya.
Kini, inovasi telah mencapai sekitar enam puluh individu insan purba, tersebar pada lahan luas menempati wilayah Kabupaten Sragen di utara dan Kabupaten Karanganyar di selatan. Jumlah keseluruhan telah melebihi lima puluh persen dari seluruh temuan fosil insan purba di dunia.
Sekadar diketahui, situs serupa hanya sekitar hitungan jari di dunia. Di Asia, terbatas di Cina, India, dan Indonesia. Di Eropa ditemukan di Jerman, Prancis, Rusia, dan baru-baru ini di Inggris. Benua Afrika lebih menonjol dengan kekunoan yang lebih tua, antara lain di Ethiopia, Kenya, dan Afrika Selatan. Indonesia tidak hanya mempunyai Sangiran, tetapi juga situs lain di sepanjang aliran Bengawan Solo, ibarat Sambungmacan, Trinil, Ngawi, dan Ngandong. Selebihnya dijumpai di Kedungbrubus, Patiayam, dan Perning.
Pada satu sisi, Sangiran telah bercerita banyak wacana kehidupan masa purba Jawa, tetapi di sisi lain meninggalkan lembaran dongeng yang masih terpendam dalam tanah. Sangiran memang lahan penelitian tidak berkesudahan. Hampir 70 tahun semenjak penemuannya, penelitian di situs ini seakan tiada ujung. Sangiran, termasuk situs unik di balik potensinya, situs ini memperlihatkan penelitian dengan tingkat kesulitan tinggi. Lihat wilayah amat luas, lapisan pengandung fosil, dan artefak yang ketebalannya mencapai puluhan meter, kondisi yang amat menyulitkan untuk
memperoleh data lengkap penelitian. Belum lagi proses sedimentasi air sungai yang membentuk lapisan telah menghilangkan konteks aslinya.
Kandungan pasir yang tinggi menjadikan situs amat rentan erosi dan longsor, kejadian yang paling sering memunculkan fosil ke permukaan. Tidak mengherankan jikalau hujan deras lebih berpotensi menampakkan fosil daripada kegiatan ekskavasi lantaran air hujan akan mengerosi seluruh permukaan situs secara simultan dan mengakibatkan kelongsoran pada tebing-tebing, sementara ekskavasi hanya berkutat pada secuil lahan dengan kedalaman terbatas. Para pemburu fosil amat memahami kondisi ini sehingga pada ketika hujan mereka menelusuri tebing-tebing di areal perladangan guna mencari fosil yang tersingkap.
Agaknya aliran von Koenigswald wacana pengenalan fosil puluhan tahun kemudian bertahan hingga
generasi sekarang. Pengetahuan wacana nilai hemat yang tinggi mendorong mereka menjual
fosil kepada kolektor daripada menyerahkan kepada pemerintah. Praktik semacam ini menjadi salah satu hambatan yang sulit diberantas dalam santunan benda cagar budaya Sangiran.
Berdasarkan bukti-bukti per tanggalan, insan purba Homo erectus telah mendiami Sangiran (Jawa) semenjak awal pleistosen (sekitar 1,8 juta tahun) hingga ratusan ribu tahun kemudian (akhir pleistosen tengah). Jika menurut  teori out of Africa, insan purba Jawa ini berasal dari Afrika. Sejak 2,5 juta tahun kemudian mereka meninggalkan Afrika, sebagian ke Eropa dan ada pula yang ke Cina dan Indonesia sesudah melewati India. Mereka diperkirakan memasuki Indonesia melalui
jembatan darat yang terbentuk ketika air bahari surut pada periode glasial.
Amat mengesankan, mereka hidup bebuyutan selama jutaan tahun di Sangiran. Ketersediaan banyak sekali sumber daya lingkungan (hewan, tumbuhan) menjadi jawabannya. Asumsi ini tidak diragukan jikalau melihat keberadaan fosil-fosil binatang yang tersebar pada lapisan-lapisan tanah Sangiran.
Manusia purba ini diperkirakan mendiami Sangiran sesudah air bahari surut atau paling tidak ketika Sangiran telah menjadi rawa dan sebagian daratan. Fosil kura-kura, herbivora, gajah jenis stegedon, babi, dan monyet yang ditemukan di lapisan Pucangan terbentuk sekitar 1,7 juta tahun kemudian menjadi materi masakan pokok, selain biota rawa dan tumbuhan yang ada di sekitarnya.
Lingkungan alam Sangiran kian mendukungkehidupan insan purba manakala seluruh wilayah Solo telah menjadi daratan semenjak 800.000 tahun lalu. Berbagai jenis tumbuhan dan binatang diperkirakan tersedia ketika itu, terbukti dari penemuan-penemuan dalam lapisan Kabuh. Pada periode ini jenis karnivora dan antilope cukup menonjol, selain binatang lain yang sudah ada pada periode sebelumnya. Penangkapan binatang dilakukan lewat perburuan dengan memakai peralatan kayu dan batu. Jika alat-alat watu masih bertahan hingga kini, alat-alat kayu sudah hancur tergoda waktu.
Sebuah lembaran gres Sangiran terisi melalui penemuan-penemuan alat watu dalam penelitian
dasawarsa terakhir. Jika temuan Koenigswald dan lainnya masih diragukan sebagai peralatan Homo erectus, temuan tim Indonesia-Prancis di Ngebung dan Balai Arkeologi Yogyakarta-Pusat Penelitian Arkeologi di Dayu dan Ngledok telah menghapuskan keraguan itu. Alat-alat serpih, kapak pembelah, kapak perimbas, bola batu, watu dipecah, dan watu pukul bersama fosil-fosil binatang yang ditemukan dalam lapisan Kabuh, di tepi endapan sungai purba di Ngebung dan alat-alat serpih dalam lapisan grenzbank  di Dayu menjelaskan peralatan itu milik Homo erectus yang hidup sekitar 900.000–500.000 tahun lalu. Berkat inovasi ini, terbukti insan purba Sangiran, ibarat insan purba lain di dunia, telah memakai alat-alat watu untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya.
Kekayaan tinggalan Sangiran telah mengantarnya menjadi situs terpenting dalam penelusuran
sejarah kemanusiaan dan peradaban. Perannya menjadi lebih penting jikalau mengingat jarangnya situs sejenis di dunia. Kepentingan inilah yang menjadi dasar pertimbangan UNESCO untuk mengesahkannya sebagai warisan budaya dunia pada tahun 1996. Pengesahan ini membawa perubahan pada kedudukan situs yang tidak hanya berlingkup pada kepentingan lokal-nasional, tetapi juga berlingkup kepentingan dunia.
Konsekuensi lain dari situs dunia menuntut profesionalisme yang tinggi dalam pengelolaan,
sejajar dengan pengelolaan warisan budaya lain di dunia. Pemerintah sentra agaknya perlu mendirikan semacam sentra pengembangan yang secara integral menangani penelitian, pelestarian, pemasyarakatan, dan pemanfaatan di situs ini. Lokasi institusi ini amat ideal di museum kini dengan meluaskannya menjadi sebuah kompleks bertaraf internasional. Selain perkantoran, dalam kompleks ini dibangun museum modern, laboratorium lengkap, ruang konferensi, dan taman wisata. Pembangunan kompleks pengelolaan terpadu ini mencerminkan
kesungguhan kita sebagai bangsa yang mempunyai apresiasi besar terhadap Sangiran dan mengelolanya dengan baik untuk pengembangan ilmu dan kepentingan masyarakat sekitar.
Sumber: Artikel Truman Simanjuntak, Kompas, 22 Februari 2003

Setelah membaca wacana di atas, kerjakan soal-soal berikut!
A. Pilihlah balasan yang tepat!
1. Sering fosil ditemukan terpendam dalam lapisan Bumi penggalan . . . .
a. kerak
b. inti
c. inti luar
d. selubung

2. Manusia purba Jawa hidup ketika perkembangan Bumi berada pada zaman . . . .
a. arkeozoikum
b. pleistosen
c. palaeozoikum
d. neozoikum

3. Kesulitan untuk meneliti fosil di Sangiran antara lain lantaran adanya proses sedimentasi. Proses ini sangat dipengaruhi oleh tenaga alami yaitu tenaga . . . .
a. eksogen
b. endogen
c. tektonik
d. vulkanik

4. Munculnya fosil ke permukaan dibantu oleh erosi. Erosi yang berlangsung di wilayah Sangiran terjadi lantaran kiprah tenaga . . . .
a. air
b. angin
c. gelombang
d. manusia

5. Manusia purba Homo erectus berasal dari Afrika. Mereka masuk ke Indonesia melalui jembatan darat. Bentang alam jembatan darat ini terbentuk oleh proses erosi dengan kiprah tenaga . . . .
a. air
b. angin
c. gelombang
d. bintang

6. Situs-situs purba di Indonesia antara lain tersebar di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo. Oleh lantaran itu, bentang alam di wilayah tersebut sangat dipengaruhi oleh proses . . . .
a. tektonik
b. vulkanik
c. fluvial
d. seismik

7. Selain hujan, longsor di Sangiran juga dipengaruhi oleh kondisi tanah yang mempunyai karakter . . . .
a. kandungan zat hara tinggi
b. kandungan pasir tinggi
c. liat dan berwarna cokelat
d. sulit ditembus air

8. Terkuburnya fosil dalam tanah menerangkan adanya fenomena geografis yang berperan yaitu
. . . .
a. gempa
b. sedimentasi
c. abrasi
d. korasi

9. Fosil-fosil yang ada di Afrika dan Indonesia ibarat membentuk mata rantai evolusi manusia. Salah satu pembentuk mata rantai ini yakni kondisi alam wacana pulau-pulau di Indonesia dahulu pernah menjadi satu dengan daratan Asia. Terpecahnya daratan-daratan ini disebabkan oleh acara alami yaitu . . . .
a. tektonisme dan seisme
b. vulkanisme dan seisme
c. sedimentasi dan erosi
d. vulkanisme dan erosi

10. Proses sedimentasi di muara sungai menghasilkan bentang alam . . . .
a. jembatan alam
b. delta
c. dome/kubah
d. gumuk pasir

11. Tokoh peneliti yang berjasa memopulerkan Sangiran ke dunia internasional yakni . . . .
a. Eugene Dubois
b. von Koenigswald
c. Teuku Jacob
d. R.P. Soejono

12. Fosil insan purba pertama yang ditemukan di Sangiran dikenal dengan . . . .
a. Homo sapiens
b. Pithecanthropus erectus
c. Homo wajakensis
d. Meganthropus paleojavanicus

13. Tidak mengherankan jikalau hujan deras lebih berpotensi menampakkan fosil daripada kegiatan
ekskavasi.  Yang dimaksud dengan  ekskavasi yakni . . . .
a. penggalian tempat yang mengandung fosil
b. pencatatan benda-benda bersejarah
c. perawatan fosil secara berkala
d. pemeliharaan fosil dalam sebuah museum

14. Pengetahuan wacana nilai hemat yang tinggi mendorong mereka menjual fosil kepada kolektor ketimbang menyerahkan kepada pemerintah. Tindakan penjualan  fosil kepada  kolektor
termasuk melanggar aturan lantaran . . . .
a. manfaatnya tidak diterima pemerintah
b. rakyat justru tidak memperoleh keuntungan
c. fosil termasuk khazanah budaya bangsa
d. yang wajib menjual yakni pemerintah

15. Kala pleistosen masuk ke dalam penggolongan zaman . . . .
a. tersier
b. kuarter
c. kapur
d. jura

16. Sangiran diduga merupakan tempat tinggal komunitas insan purba lantaran . . . .
a. sudah banyak penghuni yang lain
b. asal permintaan insan purba dari Sangiran
c. alamnya subur dan tersedia sumber daya
d. bukti yang ditemukan hanya ada di Sangiran

17. Manusia purba yang hidup di kawasan Sangiran diduga telah sanggup berburu dengan memakai peralatan . . . .
a. besi
b. batu
c. tembaga
d. perunggu

18. Yang dimaksud dengan  the Sangiran flake industry yakni . . . .
a. industri pembuatan fosil di Sangiran
b. semua industri yang ada di Sangiran
c. peralatan purba yang ditemukan di Sangiran
d. insan yang bekerja di sektor industri di Sangiran

19. Penemuan serangkaian fosil kura-kura, herbivora, gajah jenis stegedon, babi, dan monyet sanggup dijadikan petunjuk bahwa insan purba di Sangiran . . . .
a. termasuk pemakan binatang (karnifora)
b. sanggup beternak hewan-hewan tersebut
c. mempunyai keahlian berburu
d. berasal dari turunan hewan

20. UNESCO tetapkan Sangiran sebagai warisan budaya dunia lantaran . . . .
a. insan purba yang tinggal di sana telah berbudaya tinggi
b. kebudayaan insan purba sudah maju
c. Sangiran yakni salah satu situs langka di dunia
d. UNESCO ingin mencontoh hasil budaya Sangiran

B. Jawablah pertanyaan dengan tepat!
1. Proses pelapukan mengakibatkan hilangnya sifat orisinil fosil sehingga menyulitkan identifikasi. Pelapukan sanggup terjadi secara fisik. Bagaimanakah proses pelapukan itu terjadi? Jelaskan!
2. Apakah yang mengakibatkan daratan-daratan di muka Bumi terpecah ibarat kini ini?
3. Sedimentasi merupakan proses yang terjadi lantaran tenaga eksogen. Sebutkan proses-proses
alami lain yang terjadi lantaran tenaga eksogen dan bentang alam yang dihasilkannya!
4. Bagaimanakah proses terjadinya erosi oleh tenaga air?
5. Secara garis besar, perubahan muka Bumi yang juga mengakibatkan kehidupan di Bumi berubah semenjak zaman insan purba hingga ketika ini antara lain dipengaruhi oleh tenaga dari dalam Bumi. Bagaimanakah bentuk dampak tenaga dari dalam Bumi terhadap kehidupan?
6. Jelaskan ciri-ciri Pithecanthropus erectus!
7. Mengapa Sangiran menjadi populer di dunia?
8. Bagaimana cara  Pithecanthropus erectus memenuhi kebutuhan hidupnya?
9. Apa yang kau ketahui wacana teori  out of Africa? Jelaskan!
10. Mengapa kelestarian situs Sangiran harus kita jaga? Jelaskan!

Demikianlah info yang sanggup disampaikan berkaitan dengan teladan Soal IPS Kelas 7 Sekolah Menengah Pertama Bab 1 wacana Lingkungan Kehidupan Manusia, yang bersumber dari Buku Bse Ilmu Pengetahuan Sosial Sekolah Menengah Pertama Kelas VII, Departemen Pendidikan Nasional. Semoga bermanfaat!!!

0 Comments:

Post a Comment